Presiden (Bukan) Idola

Selamat Malam,

Salam 3 jari, Persatuan Indonesia…

Aku ingin menyampaikan sebuah pengakuan, dari rakyat untuk Indonesia. Belakangan ini, Indonesia telah membuatku gelisah. Kenapa aku menyebut Indonesia? Karena, aku belum berani menyalahkan pihak manapun…

Ini sudah mendarah daging! Panggung sandiwara telah dihiasi oleh manusia yang haus akan sebuah pengakuan. Ego telah disalah gunakan. Kebenaran bukanlah sebuah ketetapan, melainkan sesuatu yang dipaksakan. Umat berperang memperjuangkan ego, bukannya sebuah kebenaran, sayangnya mereka mengabaikan itu. Ini sudah mendarah daging!

Tahun ini, aku merasakan klimaks egoisme itu…

(bukan) Idola

Tahun ini, pertama kalinya aku ingin berontak pada Indonesia, nama yang menggantung pada identitasku. Aku ingin metutup muka, tapi aku tidak sanggup menutup mata, sayangnya keberanianku tidak ada. Aku bukan aktivis, bukan anggota partai…aku bukan pula pihak yang memegang peran kekuasaan…aku hanya seorang rakyat yang cinta Indonesia…

Indonesia yang SATU, kini ibarat kain yang sudah tercabik oleh perang kepentingan…

Indonesia yang SATU, sudah dikotori oleh perang pendapat para oknum yang sama-sama merasa suci…

Kini, Indonesia yang SATU telah memutuskan pilihannya…perang hanya butuh satu pemenang!

Yah, bolehlah! Tapi, ketahuilah Indonesia, sejak awal aku sangat kecewa. Aku tidak punya pilihan meskipun aku diberikan hak untuk memilih. Sehingga, saat aku benar-benar memilih, aku melakukan hal diluar nurani. Aku memilihnya karena aku tidak menyukai lawannya! Ternyata pilihanku tidak dipilih Indonesia…

Ketahuilah Indonesia, ini pertama kalinya aku tidak suka pemimpin pilihanmu. Aku bukan sedang menjelekkan, namun ini hanyalah sebuah naluri ketidaknyamanan…

Pada dasarnya, aku adalah penggemar fanatik beliau. Menurutku, beliau adalah seseorang yang bersahaja dan rendah hati. Beliau seperti seorang negarawan. Apapun yang beliau katakan, menurutku adalah sebuah kebenaran. Aku banyak belajar “how to think out of the box” dari beliau. Beliau muncul saat aku menghargai sebuah kreativitas.

Saat aku mulai menjunjung tinggi sebuah komitmen, beliau muncul dengan pakaian yang sama. Akan tetapi, pakaian itu (menurut asumsiku) sudah dilumuri oleh noda kepentingan. Aku kecewa pada Idolaku.

Aku tidak suka pada wajah yang alim karena ingin dipandang alim. Aku tidak suka pada sosok yang terlihat tegak, namun sebenarnya tidak lebih dari wayang yang sedang digerakkan. Aku berharap, semua asumsiku salah. Karena, aku cinta Indonesia.

Sekali Lagi! Presidenku kini adalah idolaku dulu. Tapi, presiden adalah pemimpin bangsa. Presiden (bukan) Idola!

Ketahuilah! Tulisan ini lebih dari sekedar kepentingan politik yang bersifat sementara, melainkan sebuah ungkapan perasaan anak bangsa yang gelisah melihat drama panggung Indonesia. Dimana para aktornya sedang lupa dengan hakikat hidupnya…

Salam 3 jari, Persatuan Indonesia

By. Riri Armen

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s