Dinara’s Luck

Dingin ini masih milik sang pagi. Bulir-bulir embun berkuasa mengalahkan raja awan yang masih tertidur dibawah selimutnya. Debu-debu belum berani mengotorkan udara. Bahkan matahari belum mampu memamerkan senyum indahnya.

Hanya Dewi Roi Roi yang terpaku menatap pajangan dinding yang penuh dengan angka-angka, kalender kerajaan awan.

Dua puluh kali senyuman matahari muncul dan kemudian pergi, Dewi Roi Roi enggan melepaskan pandangannya dari kalender itu. “Sepuluh kali kemunculan matahari, peristiwa mengagumkan itu akan terjadi.”

“Aku tidak akan tinggal diam! Impianmu tidak akan pernah kau rengkuh Roi.”

“Lot Abraxia! Seenaknya saja kau masuki ruang pribadiku.”

“Sebagai Mentri Perhitungan Takdir, aku punya andil untuk melemahkan calon penerusmu itu. Ha…ha…ha…”

Awan-awan mulai menari-nari di tapak langit. Keceriaannya tampak oleh mata manusia di muka bumi. Keceriaan manusia itu adalah sumber kekuatan Dewi Nubesica, Ia lah yang menghembuskan kapas-kapas dewa untuk menyejukkan tempat tinggal dewa-dewi, juga tempat manusia.

Namun, Kesempurnaan tidak selamanya menyelimuti Dewi Nubesica. Dewi Nubessandra, saudara kembarnya, sangat senang mengotori kapas-kapas dewa. Kapas-kapas kotor itu yang selalu mengagetkan Dewa Pluviaris, Dewa air yang sangat kasihan pada Dewi Nubesica. Ia selalu mencurahkan isi telaga untuk membersihkan kapas dewa yang dikotori Dewi Nubessandra. Air itulah yang kemudian menjadi hujan yang membasahi bumi.

Rintik-rintik hujan itu semakin deras. bagaikan jarum air yang mampu menusuk batu yang keras hingga berlubang. Dingin, rasanya sudah merasuki tulang. Ibu yang perutnya semakin membuncit itu mulai menarik selimut dikakinya. Sambil mengelus perutnya ia memanjatkan do’a pada Tuhan, “Terima kasih atas anugerah yang besar ini, Tuhan.”

(Bersambung…..)

“Riri Dinara (20 Juni 2012) punya obsesi setinggi bintang dilangit. Ingin menjadi bulan yang menjadi primadona malam dan secerah matahari yang didambakan siang. Keberuntungan bukan hal yang menetapkan kebahagiaan, namun Dinara’s Luck adalah sebutir puing pasir yang tidak boleh luput dari kehidupan, Riri Dinara.”

Advertisements

One thought on “Dinara’s Luck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s