1806 Setahun Berlalu

Waktu tidak akan pernah peduli. Ia akan terus berlalu walau aku meraung darah meminta ia kembalikan masa yang dulu. Canda dan gelak tawa tertinggal dalam ruang waktu. Tidak bisa aku angkut untuk menemaniku di masa sendu. Aku hanya insan tuntunan, yang akan berjalan mengikut garis tangan.

Tidak pernah aku membayangkan, eratnya gengamanku masih dapat dilepaskan oleh takdir. Raungan hanya menyisakan air mata dan luka perih tidak terperi. Waktu hanya terus berlalu. Dan tidak pernah peduli. Lembaran hari terus berganti. Bumi terus berotasi.

Tepat satu tahun yang lalu, dunia terasa sunyi senyap bagiku. Berharap kenyataan itu adalah mimpi. Keindahan laksana kemustahilan saat itu. Aku merasa tidak akan pernah bahagia lagi.

Terpaku menatap jasad yang tidak bernyawa, terbujur diselimuti kain batik. Rumahku yang biasanya hanya ada kami berempat menjadi penuh sesak. Bendera hitam melambai di halaman rumahku. Ayahku, lelaki yang saat itu paling aku cintai, telah menghadap Ilahi.

Setahun Berlalu…

Tulangku yang dahulu lemah melambai santai, kini harus kuat menahan gejolak. Aku berfikir lebih dewasa. Otak yang dahulu hanya diisi tuntutan kini harus diimbangi dengan tuntunan. Tuntunan untuk mengokohkan meja yang hilang satu kakinya.

Dunia banyak berubah. Aku juga telah berubah. Karena waktu tidak akan berhenti memberikan kejutan.

LOVE YOU DAD…GOD HAS GIVEN MOST WONDERFUL PLACE FOR YOU…I BELIEVE!! WE WILL MEET IN ANOTHER PLACE, KINGDOM OF HEAVEN…

By. Riri Armen

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s