Masih Cinta Monyet

Dania Ariana termenung setelah ia baru saja bangun dari tidur siangnya. Ada apa dengan Ria? Apakah ia mengalami mimpi buruk lagi menyeramkan? Aku menanyakan permasalahannya…dan Ria pun menceritakannya.

Ria termenung karena ia teringat dengan teman sekelasnya waktu di Sekolah Menengah Pertama. Ia lelaki yang pernah mampir dihati Ria sebagai Idola. Bagaimana tidak, lelaki yang berhati mulia itu telah mencuri hati gadis yang sedang labil itu.

Kala itu, Masa Orientasi Siswa yang penuh dengan perpeloncoan membuat Ria merasa tidak nyaman. Apalagi, teman-teman sekelas juga ikut membuat Ria keki. “Ada si gigi kelinci…sembunyi dibalik kursi…keteknya bau babi…”, dan di sudut kelas juga ada yang bersorak sambil mengopor topi biru Ria kepada teman usil yang lain, “Hey si kulit panci…ayo kesini…wueekk…”, malangnya Ria.

Namun, tidak semua teman sekelas Ria yang usil, masih ada Arkan. Arkan adalah lelaki paling tampan dimata Ria. Lesung pipinya yang muncul disetiap senyumnya membuat Ria, gadis kecil yang belum mengerti perihal jatuh cinta, menjadi mabuk kepayang. Membaca buku Biologi seakan membaca surat cinta dari Arkan, naik ojeg serasa dibonceng oleh Arkan, dan Pak Zulfadli, guru Fisika terlihat seperti…….”Dania!!!!!!!!!”…”(Pletokk)”, kapur tulis sepanjang 5 sentimeter mendarat di kening Ria.

Hmm, virus cinta telah melemahkan daya tahan Ria. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, dunia seakan sepi tanpa melihat senyuman Arkan. Arkan memang lelaki yang baik hati. Ia adalah satu-satunya murid di kelas Ria yang tidak mengusili Ria. Arkan senang membantu Ria kapanpun Ria membutuhkan. Hingga pada suatu ketika, Freda mencuri perhatian Arkan. Arkan lebih sering bersama Freda. Mereka sama-sama menjadi perangkat kelas, anggota osis, hingga sama-sama masuk klub Marching Band. Ria cemburu.

Kecemburuan Ria membuatnya menjadi berperilaku sombong pada Arkan. Setiap pertanyaan Arkan selalu ia jawab dengan muka masam. Ria pun tidak jarang menyebar cerita jelek tentang Freda kepada teman-teman di kelas, niat hati agar Freda dijauhi oleh teman-teman sekelas. Alhasil, Freda dibenci oleh murid sekelas.

Lama kelamaan Ria menyesali perbuatannya. Sesungguhnya Freda adalah teman terdekat Ria sewaktu baru masuk sekolah. Freda adalah teman sebangku Ria yang paling baik mengajarkan Ria Matematika. Bunda juga pernah bilang, “Freda itu ada hubungan keluarga sama kita, Ra.”

Dan Arkan, hanyalah sebuah Cinta Monyet, perasaan cinta yang masih primitif, belum berkembang, karena dirasakan oleh orang yang belum matang dalam memahami cinta, dialah Ria. Karena itu pula, hingga sekarang Ria hanya memendam perasaannya. Ria sangat malu jika Arkan mengetahui perasaannya pada Arkan.

Sudah 9 tahun sudah Ria tidak berjumpa dengan Arkan. Jangankan untuk bertatapan muka, berbincang di dunia maya pun tidak pernah. Ria pun pernah “add” akun FaceBook Arkan, namun Arkan “ignore”. Apa Arkan masih jengkel dengan Ria? Hati Ria selalu bertanya-tanya.

Oh Arkan…Ria selalu terbayang senyuman berlesung-pipinya…(By. Riri Armen)

Advertisements

2 thoughts on “Masih Cinta Monyet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s