Pindah Rumah

Malam hari sangat nikmat untuk menyerah diatas kapuk yang empuk tanggung seperti permen karet yang sudah dikunyah seharian, kasur. Di topang oleh ketupat dikepala sambil memeluk sosis yang lembut, bantal-bantal dikamar Riri..

Tapi sepertinya Dania Ariana sangat ingin menyambung cerita yang sempat terputus.

Kemana Ria dan keluarga pindah???

***

Semangat Ria kala ayah mengabarkan bahwa ia sekeluarga akan menempati rumah baru sangat menggelora bagaikan besarnya api yang membakar 1000 teng bahan bakar pesawat terbang, sulit sekali dipadamkan kala itu. Tanpa pikir panjang Ria langsung mengemasi barang-barangnya seorang diri agar lekas dimasukkan kedalam truk pengangkut barang. Semalam Ria tidak tidur karena membayangkan rumah baru yang besar dan nyaman, yang konon kata ayah tempatnya dekat dengan pegunungan. Ria suka tempat yang segar dan agak jauh dari keramaian.

Mobil yang dikemudikan Ayah menyusuri jalan mengikuti truk pengangkut barang. Sepanjang jalan menuju rumah baru Ria asik melihat kekiri dan kekanan banyak pohon cemara, seperti lagu Ibu Sud. Namun, sudah 4 jam dalam perjalanan, “Ayah, kapan kita sampai?”, “Masih 120 km lagi anak gadis Ayah”..

Ton..Ton..Ton..

Kerasnya klason truk pengangkut barang membawa Ria kembali kealam nyata. Sambil mengucek mata, samar-samar Ria melihat rumah barunya. “Sudah sampai, Ria”, bunda membangunkan.

Semangat yang awalnya berkobar musnah dipadamkan oleh tim fire factor. Ria tidak suka tempat barunya Ayaah!! Kampung!! Apalagi setelah Ria mendengar percakapan tetangga dengan bahasa yang sedikit kebatak-batakan, sedikit bernuansa Mandailing dicampur dengan bahasa Minang. Baa teh ro? (Kenapa itu?). Apalah!!. Ria sangat bingung mau bicara apa. Sulit bagi Ria untuk memulai komunikasi dengan orang-orang, Ria hanya mengerti bahasa Indonesia.

Ria sangsi tinggal dirumah baru. Ria mau pindah lagi. Ayah dan Bunda tidak bisa seenaknya membawa Ria tinggal di perkampungan. Meskipun kata Bunda ini adalah tempat yang paling bagus, ini satu-satunya komplek yang ada di kabupaten ini. Lagian tempatnya juga tidak jauh dari tempat Ayah bekerja.

Kenapa Ayah bisa pindah tugas kedaerah district ini? Ria sempat tidak mau masuk kerumah barunya itu. Tapi………….!!!!!!

Ria memutar otaknya kembali…..

Aha….!! disini kan lebih aman. Kak Elena tidak akan menemukan jejak Ria disini. Lebih baik tinggal disini daripada dirumah yang lama, pasti Ria tidak diganggu lagi oleh bayang-bayang kak Elena. Ria sudah jauh dari kak Elena, jadi niat kak Elena mengawinkan Ria, anak yang masih bau asem keringat bisa batal.

Sudahlah!..Ria mulai ikhlas melangkahkan kakinya untuk keluar pintu mobil.

Yang perlu dihadapi besok adalah bagaimana caranya menyesuaikan diri dengan teman-teman disekolah. Ria didaftarkan Ayah di Sekolah Dasar yang dekat dengan rumah. Kalau Bunda bilang, “Sekolah Ria udah di sudut dapur sekarang”. Ria bisa dekat dengan Bunda setiap saat.

***

Riaa..Riaa..

Ada-ada aja memang anak ini. Bagaimana sekolahnya ya? Mau bicara dengan bahasa apa?..Apalah itu. Kita bisa bahas dilain waktu.

Jadi, berdasarkan pengalaman hidup Ria, Riri dapat mengambil sebuah nasihat bahwa…

Terkadang yang kita anggap jelek itu tidak selamanya berakibat jelek pada diri kita. Kita juga harus hati-hati bahwa mungkin saja yang kita anggap baik itu sewaktu-waktu akan memberikan dampak yang buruk untuk kita..(By. Riri Armen)

Advertisements

One thought on “Pindah Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s