Sekuntum Melati

Pagi ini Riri teringat kisah Dania Ariana semalam..

Banyak cerita yang kita buat saat berkumpul dengan sahabat. Semalam Dania Ariana menceritakan kisah masa kecilnya. Sewaktu masih Taman Kanak-kanak. Ria kecil sangat mudah terbius dengan masalah biasa.

***

Di Taman Kanak-Kanak Aisah, tempat Ria bersekolah ia mengalami trauma yang berat sepanjang hidupnya karena pernah mengambil sekuntum melati milik kak Elena, yang tumbuh dekat halaman sekolah. Kak Elena adalah anak pemilik usaha pelaminan, yang menyadiakan jasa sewa tenda dan atribut untuk acara pernikahan. Kalau zaman sekarang usahanya mirip dengan wedding organizer. Sifatnya yang dingin pada murid-murid taman kanak-kanak membuat murid-murid itu takut pada kak Elena. Saat itu Ria memetik bunga melati yang sedang mekar. Kak Elena yang melihat Ria memetik bunga itu langsung berkata pada ibunya, “Besok kita kawinkan saja dia, Ma.”

Saat itu, ucapan kak Elena seakan menyiratkan makna mistis dari bunga melati yang Ria petik, barang siapa yang mengambil bunga melati itu harus dikawinkan dalam waktu dekat. Sesaat tubuh Ria seolah kaku, kelu, tak satupun kata yang keluar dari mulut Ria. Tulang-tulangnya gemetar, bibirnya pusat pasi, kasihan Ria kala itu. Ria takut sekali dikawinkan!!!

Kawan-kawan yang berniat membantu dengan polosnya mengambil kuntum melati yang masih tersangkut di jari-jemari Ria yang kecil, “Sini, biar kita tanam lagi bunganya, biar kak Elena tidak marah lagi”. Dengan polosnya kawan-kawan Ria meletakkan kuntum bunga itu di permukaan tanah dan memanjatkan doa, “Yaa Allah, tumbuhkanlah bunga melati ini lagi”.

Tapi, ibarat nasi sudah menjadi bubur, yang sudah diambil tidak bisa dikembalikan lagi. Saat itu Ria pasrah. Ingin sekali mengadu pada ayah dan bunda. Tapi Ria takut. Bahkan hingga saat Ria dewasa hanya Riri yang mengetahuinya. Banyak sahabat yang dikenal Ria, tidak sekalipun Ria hendak membuka rahasia.

Ria semakin gemetar tatkala keesokan harinya mobil kak Elena terparkir tak jauh dari rumahnya. Gerak gerik yang mencurigakan terbaca oleh perasaan yang panik dan ketakutan. Tak satupun penumpang mobil itu keluar, hanya duduk diatasnya dan seolah membaca situasi daerah lawan. Ria takut sekali diculik dan dikawinkan setelahnya.

Ria merasa tinggal dirumahnya adalah suatu ancaman karena kak Elena sudah mengetahui tempat tinggalnya. Lebih kurang dua tahun Ria hidup dalam ketakutan, tak ingin Ria keluar rumah tanpa Ayah dan Bunda. Ria selalu meringkuk dibalik pungguh Ayah yang dianggapnya paling hangat sejagat raya. Sampai akhirnya Ayah mengabarkan bahwa Ria sekeluarga akan menempati rumah baru yang jauh sekali dari rumahnya yang sekarang. Ria juga harus pindah sekolah….

***

Sebelum sempat menceritakan kemana Ria dan keluarga pindah, mata Riri tak sanggup lagi diajak kompromi untuk mendengarkan cerita Ria. Riri juga telah pindah kealam lain, Alam mimpi..

Cerita Ria mengingatkan Riri bahwa masa kecil ibarat kertas putih yang akan tumbuh berdasarkan coretan orang tua dan lingkungan sekitarnya. Trauma masalalu sangat sulit dihilangkan dan akan berakhir bila ada insan yang sanggup menghapuskan coretan hitam itu..(By. Riri Armen)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s