Hanya Dia

Riri menulis sambil menahan derasnya aliran sungai musi yang sudah merembes ke pipi. Rembesan itu semakin kencang hingga Riri tidak sanggup membohongi perasaan bahwa Riri sedang bersedih. Aliran nafas yang seolah tertutup oleh katup tenggorokan, degup jantung berpacu dengan kuda pacuan. Riri gelisah.

Perasaan yang yang selalu Riri tahan membuat Riri mengunci brangkas itu rapat-rapat. Mami tidak boleh merasakan aura kesedihan yang tak sengaja Riri munculkan. Gaung itu tidak boleh dipantulkan pada orang-orang yang Riri sayangi. Cukup Riri dan Dania Ariana.

Mengapa harus Ria?

Karena Ria satu-satunya yang sanggup mendengarkan cerita sedih tanpa memilukan dirinya sendiri. Setelah bercerita dengan Ria mungkin Riri boleh merasa lega. Dimanakah Ria? Mungkinkah Ria datang malam ini untuk dengarkan Riri bercerita? (By. Riri Armen)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s