Menjelang 22

Hampir tengah malam mata Riri masih setia memandangi monitor, dan jari Riri masih gembira menari-nari diatas keyboard yang mungkin sudah kelelahan dipencet..

Bagi umat Nasrani saat ini adalah wajar untuk bergadang menjemput pagi sambil menikmati momen Natal yang khidmat. Tapi bagi Riri, malam ini bukanlah untuk menikmati malam Natal. Malam ini membuat Riri membayangkan kisah 22 tahun yang lalu….

***

Alkisah di sebuah desa yang kurang ramai penduduk, Kepala Hilalang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, 26 Desember 1989 lahirlah seorang bayi yang sangat dinantikan kehadirannya tepat pukul 1 dinihari. Suasana kelelapan malam dingin dihembus angin dan diguyur hujan. Ibu yang seharusnya berbahagia itu terbaring lemas hampir tidak sadarkan diri. Pekikan bayi yang baru terlahir kedunia menggetarkan gendang telinga manusia hingga ke sudut-sudut sisi Puskesmas. “Infus tidak berfungsi!!!”, kata Bidan panik.

Sang suami dan anggota keluarga terbawa suasana tegang kala itu. Tak satupun anggota keluarga yang luput dari perasaan takut akan kemalangan. Hingga seorang diutus untuk mencari telur ayam kampung untuk dimakan dinihari ini juga oleh Ibu yang baru melahirkan itu. Suasana menjadi tenang saat ibu Bidan mengakui kekeliruannya karena lupa memberikan lubang pada infus yang dipasangnya. Akhirnya, Alhamdulillah..nafas kelegaan yang kompak berhembus mengakhiri kegelisahan.

Keesokan paginya, gelak tawa menghibur hati yang lepas dari gundah gulana dipecah oleh pengakuan sang “Pencari Telur Ayam Kampung”..apa yang terjadi sesungguhnya pada dini hari itu?

“Uni, tadi malam saya ambil telur di kandang Buk Haji”,….apaaaa? Jadi telur yang telah mengalir menjadi ASI untuk si bayi yang baru lahir adalah telur curian..

Ups..jangan salah paham dulu..ia tidak berniat mencuri telur, tapi memang mana ada manusia yang bersedia dibangunkan saat dinginnya malam mengundang hasrat untuk menarik selimut dan menutup rapat-rapat gerbang pembatas antara mimpi dengan dunia nyata..

***

Begitulah, memori ini selalu diingatkan oleh kedua orang tuaku.

Membayangkan beratnya perjuangan mami saat melahirkan dan murninya kesetiaan papi mendampingi detik-detik perjuangan mami melahirkan Riri. Begitu pula kesabaran mereka mendidik Riri hingga dewasa.

Mami, segunung emaspun tidak bisa membayar setiap pengorbanan mami, setumpuk mutiara di lautan tidak bisa menggantikan keringat yang telah dikucurkan, air mata yang sudah mami curahkan atas nama Riri adalah dosa terbesar yang telah Riri perbuat. Izinkan Riri untuk mengisi lembar hidup mami dengan kebanggaan dan kebahagiaan..

Begitupun Papi, kehangatan yang selalu Riri dapatkan dari papi, membuat Riri sangat bangga mempunyai ayah seperti papi. Senyuman yang selalu tersungging dibalik keletihan papi kembali dari kantor, pelukan hangat, dan belaian lembut papi saat membangunkan Riri setiap pagi selalu teringat dan menyentakkan Riri untuk selalu mengirim do’a untuk kebahagiaan papi di “rumah abadi”.

Mom and Dad..

 I am 22..(By. Riri Armen)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s